Pena Pagi Nusantara

Puluhan Diduga Preman Memasuki Pabrik Kasur Gunung Sindur

BOGOR pena-pagi-nusantara.my.id | Ketegangan menyelimuti area pabrik kasur busa Desa Curug Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor, sejak Senin (23/3). Sengketa kepemilikan lahan yang kian meruncing berujung pada pengerahan massa dalam jumlah besar ke dalam area pabrik.

Pabrik yang telah beroperasi selama puluhan tahun dan menjadi sumber penghidupan bagi ratusan warga sekitar itu kini berada dalam situasi pelik. Kondisi memanas setelah puluhan orang yang dididuga sebagai preman memasuki area pabrik dan melakukan pengambilalihan lahan secara sepihak, mengklaim bertindak atas nama pemilik baru.

Aksi tersebut berdampak langsung pada operasional pabrik yang seketika lumpuh total. Akses masuk ke dalam area pabrik kini tidak dapat digunakan secara normal oleh ratusan karyawan yang datang untuk bekerja setelah libur.

Baca juga: Libur Lebaran, Polres Perketat Pengamanan Obyek Wisata Hingga Swalayan

Sejumlah karyawan dilaporkan telah datang sejak pagi hari dengan harapan dapat kembali bekerja, namun mereka harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian di luar pagar.

Kekhawatiran kian meningkat mengingat sebagian besar karyawan menggantungkan penghasilan harian dari pekerjaan di pabrik tersebut.

“Kami terkejut ada puluhan orang yang masuk ke area pabrik, jadi kami tidak bisa bekerja. Ini masalah serius bagi kami yang membutuhkan penghasilan,” ungkap salah satu karyawan yang tak ingin disebutkan namanya.

Baca juga: Pasangan Remaja Meninggal Dalam Mobil 

Aparat Berjaga di Lokasi
Merespons situasi yang kian mencekam, aparat kepolisian telah disiagakan di lokasi untuk mencegah terjadinya bentrokan fisik dan sementara waktu menguasai akses masuk utama pabrik.

Polisi kini berfokus pada pengamanan area dan memastikan tidak ada pihak yang melakukan tindakan anarkis lebih lanjut. Dampak dari terhentinya operasional juga dirasakan oleh berbagai pihak, termasuk pelanggan yang menunggu pengiriman pesanan, supplier yang bahan bakunya masih tertahan di dalam area pabrik, serta pihak perbankan yang memiliki hubungan kerja sama dengan perusahaan.

Dalam perkembangan terbaru, komunikasi intensif mulai dilakukan antara pihak manajemen perusahaan dan perwakilan dari pihak pengklaim lahan. Salah satu opsi yang muncul untuk memecah kebuntuan adalah kewajiban pembayaran sewa agar kegiatan operasional dapat segera berjalan kembali.

Pihak perusahaan dikabarkan memilih untuk mengikuti opsi tersebut sementara waktu dengan pertimbangan utama agar ratusan karyawan dapat kembali bekerja dan aktivitas produksi dapat segera normal kembali.

Hingga berita ini diturunkan, proses hukum terkait validitas kepemilikan lahan masih terus bergulir. Masyarakat dan karyawan berharap ada solusi permanen yang adil agar investasi dan lapangan kerja di wilayah Desa Curug tetap terjaga kondusifitasnya. Red_

Berita Terkait

Terkini

Pena Pagi Nusantara